
Dosen Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah UINSI Samarinda
Setiap tahun, kita memperingati Hari Kartini dengan cara yang nyaris seremonial: kebaya, lomba, dan slogan emansipasi. Namun, ada satu hal yang kerap luput dari ingatan kolektif kita—bahwa pemikiran Raden Ajeng Kartini tidak berdiri di atas imitasi Barat semata, melainkan juga bertumpu pada pergulatan intelektual keislaman yang serius.
Narasi dominan selama ini cenderung “mensekulerkan” Kartini: seolah-olah gagasan kebebasan dan kesetaraan yang ia perjuangkan lahir dari pengaruh Eropa belaka. Cara pandang ini bukan hanya reduktif, tetapi juga mengabaikan satu fakta penting-pertemuan Kartini dengan seorang ulama lokal, KH Sholeh Darat, yang justru membuka cakrawala ke-Islamannya.
Kegelisahan Kartini sederhana, tetapi mendasar, ia membaca Al-Qur’an tanpa memahami maknanya. Ini bukan sekadar persoalan bahasa, melainkan persoalan akses terhadap pengetahuan. Di tangan Sholeh Darat, kegelisahan itu dijawab secara radikal, bukan dengan ceramah normatif, tetapi dengan produksi pengetahuan lewat sebuah kitab yang berbahasa Jawa Arab Pegon yaitu “Tafsir Faidh al-Rahman”.
Di sinilah letak signifikansi historisnya. Menulis tafsir dalam bahasa Jawa beraksara Pegon pada abad ke-19 bukan tindakan biasa; itu adalah bentuk perlawanan terhadap eksklusivisme ilmu agama. Tafsir, yang selama ini terkurung dalam bahasa Arab dan akses terbatas. Islam seolah menjadi rahasia yang terkunci karena kendala bahasa, sehaingga didorong keluar menjadi milik publik, termasuk perempuan. Dengan kata lain, Sholeh Darat sedang melakukan demokratisasi tafsir.
Dampaknya terhadap Kartini tidak bisa diremehkan. Setelah memahami Al-Qur’an melalui bahasa yang ia mengerti, Kartini tidak melihat Islam sebagai sistem yang menindas perempuan. Sebaliknya, ia menemukan nilai-nilai keadilan, martabat, dan pembebasan. Perspektif ini kemudian mengalir dalam surat-suratnya yang terkumpul dalam Habis Gelap Terbitlah Terang. Disinyalir judul buku ini dari ayat Al-qur’an (Qs. Al-Baqarah;257) yang sangat menyentuh hati Kartini “Min al-Zhulumat ila al-Nur”
Di titik ini, kita perlu mengajukan kritik serius: mengapa historiografi kita gagal membaca hubungan ini secara utuh? Mengapa Kartini lebih sering diposisikan sebagai simbol modernitas yang “berjarak” dari Islam, padahal justru interaksi dengan tradisi tafsir lokal memperkaya cara pandangnya?
Jawabannya mungkin tidak nyaman, ada kecenderungan dalam wacana modern untuk memisahkan agama dari proyek emansipasi. Akibatnya, setiap figur progresif seperti Kartini “dipaksa” keluar dari konteks ke-Islamannya agar lebih mudah diterima dalam narasi global. Padahal, justru disitulah kekeliruan mendasarnya.
Kisah Kartini dan Sholeh Darat menunjukkan hal sebaliknya: bahwa emansipasi bisa—dan pernah—tumbuh dari rahim tradisi Islam itu sendiri. Bukan Islam yang menjadi penghalang, melainkan cara memahami Islam yang sering kali elitis, tekstual, dan tidak kontekstual.
Dalam konteks kekinian, pelajaran ini menjadi sangat relevan. Ketika akses terhadap tafsir masih didominasi otoritas tertentu, ketika bahasa agama masih terasa jauh dari realitas masyarakat, maka problem yang dihadapi Kartini lebih dari seabad lalu sebenarnya belum sepenuhnya selesai.
Di sinilah kita perlu menghidupkan kembali semangat Tafsir Faidh al-Rahman. Menghadirkan Al-Qur’an dalam bahasa umat, dalam konteks umat, dan untuk pembebasan umat. Tafsir tidak boleh berhenti sebagai produk akademik atau ceramah elitis; ia harus menjadi alat transformasi sosial.
Kartini telah menunjukkan bahwa ketika perempuan diberi akses terhadap pengetahuan, mereka tidak hanya menjadi objek perubahan, tetapi subjek yang aktif merumuskan masa depan. Dan Sholeh Darat telah membuktikan bahwa ulama tidak harus menjadi penjaga eksklusivitas, tetapi bisa menjadi pembuka jalan bagi kesadaran kolektif.
Karena itu, memperingati Kartini seharusnya bukan soal romantisme sejarah, melainkan momentum refleksi kritis: sudahkah kita menghadirkan agama sebagai kekuatan pembebas? Atau justru masih membiarkannya terkurung dalam bahasa dan otoritas yang menjauh dari realitas?
Jika kita jujur, warisan terbesar Kartini bukan hanya keberaniannya bersuara, tetapi keberaniannya untuk memahami. Dan di situlah, peran Sholeh Darat dan tafsirnya menemukan relevansi yang tak lekang oleh waktu.
Wallahu ‘Alam
![]()